BREBES, VISTANEWE.CO.ID – Di tengah guyuran hujan lebat, sebuah titik temu bagi para pemikir dan aktivis tumbuh di pelosok Jawa Tengah. Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, kini memusatkan perhatiannya pada pembangunan sumber daya manusia di tanah kelahirannya, Desa Kalisoga, Slatri, Kabupaten Brebes.
Melalui Padepokan Kalisoga, Sudirman tidak hanya mendirikan hunian berarsitektur tradisional, tetapi juga merancang kampus ketiga Universitas Harkat Negeri. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata menghadirkan pendidikan berkualitas di wilayah yang selama ini jauh dari pusat kota dan tergolong daerah prasejahtera.
Ruang Perjumpaan dan Kuliah Umum
Pada Rabu (11/03/2026) sore hingga malam, suasana padepokan tampak hidup dengan kehadiran berbagai lapisan masyarakat. Acara dimulai dengan rangkaian program Ramadan on Campus, di mana tokoh nasional hadir memberikan kuliah umum.
Kehadiran para tamu, mulai dari wartawan, pengacara, budayawan, hingga kepala desa, mengubah tempat ini menjadi ruang dialog tanpa sekat formalitas. Sudirman Said, didampingi istrinya Astrid Swastika Ayuningtyas, menyambut hangat para partisipan yang datang dari berbagai daerah, termasuk Tegal dan Jakarta.
Memotret “Republic of Fear” di Tingkat Akar Rumput
Diskusi yang berkembang di Kalisoga melampaui isu-isu lokal. Para aktivis desa terlihat sangat mengikuti dinamika geopolitik global, namun tetap dibayangi kegelisahan mendalam mengenai kondisi demokrasi di tanah air.
Dalam pertemuan tersebut, mencuat istilah “Republic of Fear”—sebuah suasana ketakutan yang dirasakan masyarakat akibat serangkaian peristiwa intimidasi, seperti kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, hingga spekulasi di balik kematian misterius pegawai pelabuhan, Ermanto Usman.
“Penyimpangan banyak, tapi bagaimana mengungkapkannya agar tetap aman?” ujar salah seorang aktivis lokal, menggambarkan betapa mahalnya rasa aman dalam menyuarakan kebenaran saat ini.
Transformasi Daerah dan Kritik Meritokrasi
Selain fokus pada pendidikan dan pemberian beasiswa, pertemuan ini juga menyoroti masalah struktural bangsa. Muncul kritik tajam mengenai hilangnya prinsip meritokrasi yang digantikan oleh budaya nepotisme dan “balas budi” dalam lingkaran kekuasaan.
Di sisi lain, terdapat aspirasi mengenai transformasi wilayah. Melihat kemajuan Purwokerto sebagai destinasi, muncul pemikiran untuk mentransformasi Tegal dan Brebes agar tidak hanya dikenal melalui kuliner khas seperti Cempe Lemu atau telur asin, tetapi juga menjadi pusat aktivisme dan intelektualitas serupa Yogyakarta.
Perjalanan yang berakhir pada Kamis pagi menuju Jakarta ini meninggalkan sebuah refleksi: bahwa negeri ini tidak kekurangan orang baik atau peduli. Yang hilang adalah ruang untuk mendengar suara-suara jujur yang sering kali datang dari tempat terjauh seperti Kalisoga.
